Tampilkan postingan dengan label pikirhati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikirhati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Maret 2010

Mungkin (Aku) Juga Gila




Entah mimpi apa yang datang jika tidur awal menjadi kaget tanpa alasan, bangun sebelum tengah malam. Tentu tak seimbang dengan kondisi badan, keletihan, yang seharusnya terbayar selepas seharian mutar-mutar tanpa garis edar. Paling tidak, seharusnya badan ini tidur minimal 5 jam. Setelah kaget berdiri, cuci muka yang aku bisa. Malam sudah menenun kegelapan, ke warung kopi menjadi pilihan. Duduk ditemani sebotol air mineral tanpa kopi, ditemani 2 (dua) anak manusia yang seringkali bersama. Cukup lama mencari referensi dan bahan, namun belum ditemukan, hingga waktu online pun tak terasa. Lepas tengah malam, memilih bubar. Diparkir terasa perut lapar, padahal diawal malam sebelum tertidur sempat menelan bakso sambil mendengar banyak senda gurau dari teman-teman. Tadi sempat bertemu si Dia dengan penuh nuansa, tak ada yang berbeda dari pertemuan sebelumnya. Kita hanya saling menyapa, dan bercerita tentang MR yang mengajaknya berbincang. Oh maaf, jika dikesempatan ini, aku pun tak bisa melupakan senyumnya.
Usailah cerita pertemuan dengan si Dia tadi. Mari lanjutkan kembali cerita ku selepas tengah malam. Keluar dari parkiran warung kopi, mengajak teman-teman makan diemperan, disimpang jalan Alianyang-Penjara. Itu tempat kami nonkrong untuk menemukan suasana baru. Mendekatkan diri dengan para pedagang kecil yang nasib dagangannya setiap hari semakin ganjil. Memilih makan masakan bibi yang warung kaki limanya menjual rujak, nasi kopi, dan makanan lainnya.  Kami bertiga memilih untuk makan nasi, dengan lauk pauk yang berbeda porsi. Kompak es teh yang kami pesan, tak hirau diluar tampak hujan. Kami duduk dan makan dipelataran warung, sambil menyuap dan menelan diselingi tawa. Masih saja seputar pertemuan ku dengan si Dia yang tak pernah terduga akan kepergok sama mereka. Aduh, malunya. Kembali memilih diam saja saat olok-olokan itu menciutkan telinga, tak mesti dijawab, agar semuanya semakin sederhana. Agar mereka bisa menganggap itu hal biasa, meskipun terlihat aku paling “tua” diantara mereka. Tak ada waktu habis, canda mereka kian manis meski mengiris. Jangan membantah, karena bisa membuat pikiran lelah. Jangan diklarifikasi, karena mereka tak pernah sangsi pada asumsi. Maka dari itu, diam saja.
Ditengah gelak bertandang, tiba-tiba datang seseorang yang tak diundang. Perawakan tinggi, berkulit sawo matang (jika tak tega mau menyebut hitam) seperti ku. Terlihat rambut pendek agak ikal, celana coklat muda, dan berbaju putih sebuah partai politik. Duduk dihadapan kami bertiga yang duduk dibangku panjang menghadap jalan. Laki-laki itu langsung meminta rokok, dengan tangannya langsung meraihnya. Rokok Marlboro ku yang dipilihnya, meski ada Dji Sam Soe Refill dimeja yang sama. Dia langsung menyalakan dengan cricket biru yang bertahan ditangan ku sudah seminggu. Setelah rokok mengepul dia duduk sebentar, dan langsung kabur entah kemana, tampak menyeberangi jalan di sisi luar halaman warung. Obrolan pun berlanjut tanpa terasa terganggu oleh kedatangan tamu “agung” itu. Banyak tawa, sindiran dari dua orang teman tentang si Dia tetap berjalan dengan sempurna. Ampun Gusti, tadi pagi mereka makan apa, sepertinya “enak” saja air liurnya?
Dari hujan berganti gerimis, topik kami sedikit bergeser. Nasi dan dan lauk yang kami telan sudah diproses mencadi encer. Ngawor-ngidul tak ada suara yang membahana selain kami bertiga. Kami berbincang tentang obrolan dan nasib kaum kecil yang sepertinya kian menggigil. Tentang para intelektual gombal, politisi yang tak peduli, nasib Nahdlatul Ulama ditangan para kyai politisi atau ustadz birokrat. Berbincang harapan kami yang ingin melihat semuanya damai, tidak saling bercerai berai. Tanpa suara, lelaki itu datang kembali dihadapan kami. Langsung mengambil kembali rokok dihadapan ku yang sisa sebatang. Tanpa suara, dia menghisap es teh sisa punya teman ku yang tak lagi terasa manisnya. Kami biarkan saja laki-laki itu mengekspresikan kehendaknya atas milik kami, karena kami mungkin sudah “memaklumi” kelakuannya. Padanya kami belajar bertoleransi.
Membiarkannya, itu pilihan kami, karena untuk mengajaknya berbicara kami enggan memulai. Lalu, lelaki itu memunguti sisa-sisa nasi dari piring yang tersusun acak-acakan di meja makan. Dia mengais sisa gorengan ampla yang penuh abu rokok, karena piring sisa makan kami sulap menjadi asbak. Hati getir darah berdesir. Toleransi ini tak boleh dibiarkan, harus dilawan. Aku memberanikan diri menyapa lelaki itu dengan merendahkan suara. Menawarkan makan untuknya, dan dia menolak tanpa alasan. Tiga kali ditanya, tiga kali pula dia menolak dengan tegasnya. Mungkin, aku masih terdengar tinggi suara, maka ku melembutkannya. Tawaran ku untuk membayarkan asal mau makan diterima. AKu pesankan makan, persis porsi yang ku telan. Minum pun disamakan seperti yang mengalir di kerongkongan. Tak ada bedanya, karena dia juga manusia, seperti kami yang duduk merenda dunia. Sambil menunggu makan untuknya datang, kami bertiga diam membisu, bahkan pikiran pun buntu dan hatipun beku.
Dia menggeser duduknya ketika makan ke kursi sebelah, lahap sekali nampaknya. Kami bertiga masih terlibat bicara nostalgia. Tak ku pandang ia menelan karena khawatir dia menjadi sungkan. Aku hanya mencuri pandang, dia menelan dengan senyuman. Senyumnya terus mengembang sepanjang menikmati rejeki. Sungguh indah sikapnya dihadapan Tuhan, tak seindah kita yang gampang untuk makan namun selalu merasa kekurangan. Sungguh bijak ia menyikapi kekurangan, tak sebijak kita yang mencintai dunia dengan kerakusan. Alangkah sabarnya dia menjalani cobaan, tak sesabar kita yang menghadapinya dengan keculasan dan keangkuhan. Alangkah santai dia menahan lapar, tak sesantai kita yang demi makan ikhlas bertengkar. Betapa nyaman dia menjalani kehinaan dimata orang, tak senyaman kita yang sombong sekalipun dihadapan Tuhan. Betapa riang dia dipandang sebelah mata, tak seriang kita menghalalkan segala cara untuk bisa dianggap bahagia. Sungguh, Alangkah, dan betapa dia juga  seorang insan seperti kami yang duduk bertiga.      
Dengan merasa kenyang seusai santap menjelang dini hari, ia duduk menatap televisi. Sempurna tatapannya, terkulum senyumnya melihat film yang ditayang. Tak ada kata ataupun suara dari mulutnya. Hanya kerdipan mata bahwa dia tidak seaneh yang orang kira. Seringkali kita melihat orang-orang seperti ini yang berkelakuan aneh sebagai tanda manusia tidak waras, atau gila gampangnya. Gila itu kata yang sering kita daulatkan pada orang-orang yang unik dalam hidupnya, berbeda dengan manusia umumnya. Kita selalu menganggap diri paling waras, karena berprilaku menurut persepsi atau asumsi yang semestinya. Kita yang selalu mengira-ngira bahkan tak jarang dengan menerka-nerka. Lebih parah lagi, kita merasa manusia yang paling berhak menafsirkan titah-Nya dengan mengabaikan manusia lainnya. Bahkan lebih mudah lagi, kita yang bisa menikmati dunia dan isinya, merasa paling waras hidupnya. Mengejar harta dengan cara apapun kita lakukan untuk tidak dipandang sebelah mata atau dilecehkan dalam kehidupan. Kita, manusia yang gila sebenarnya namun mewaraskan diri dengan cara berpura-pura.
Waras dan gila bukanlah prilaku berlawanan, namun hanya sebatas perbedaan. Kita semestinya bisa mengilhami perbedaan dengan cara indah dalam memandangnya. Tidak lagi melihat orang berbeda sebagai manusia yang tak pantas hadir di dunia. Bahkan lebih kejam lagi, kita yang merasa waras atas pikiran sendiri tak lagi memakai nurani dalam menilai bumi dan isi. Sungguh, manusia tak ada yang sempurna, bahkan aku pun sempat menganggap laki-laki tadi itu juga gila.
Hujan teduh setengah tiga, kami pulang bersama menaiki kerangka besi tua. Tak ada obrolan dijalan, hanya tawa bersahutan, entah apa yang dibicarakan, tak jelas awal dan tujuan. Sesampai dirumah, aku segera mungkin untuk tak lupa, merasa menemui-Nya. Tak ada angin, bahkan semilir lembut pun tak datang disuasana hening. Ku lihat teman-teman tadi terlelap dengan tenang walaupun posisi tidurnya asal-asalan. Melihat mereka, aku jadi berpikir bahwa kita tak pernah waras selama 24 jam, karena dalam tidur kita tak bisa mengatur. Berserah pada kemauan-Nya layaknya laki-laki diwarung tadi, yang keondisinya karena kehendak-Nya. Aku pun gila merasa menghadap-Nya, padahal bisa jadi itu keberpura-puraan ku mentaati perintah-Nya. Apapun amal yang kita lakukan dan kedudukan yang diemban, jangan dijadikan modal untuk minta diagungkan, dipuji bahkan untuk didewakan. Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga selalu merendahkan hatinya. Baginda pernah berkata “Tenang saja! Aku bukan raja. Aku hanyalah anaknya perempuan Quraisy yang biasa makan ikan asin” di suatu ketika seorang laki-laki menghadap Nabi dan gemetaran -oleh wibawa beliau- saat berbicara.
Indahnya Kanjeng Rasul, yang tak pernah memandang hidup orang lain dengan sebelah mata. Selalu mengayomi perbedaan dan kealfaan manusia dengan kerendahan hatinya. Tidak seperti kita kebanyakan, dan aku yang menuliskan, hanya mengejar dunia dengan isinya tanpa bisa sederhana dan bersahaja. Tanpa mengenal waktu, hanya merasa waras dengan pikiran sementara. Bisa jadi, kita lebih gila dari saudara ku di warung tadi yang telah dibebaskan hukuman atas dirinya. Jika dia dianggap gila karena tak bisa menggunakan akalnya, mungkin kita gila karena berlebihan menggunakan fungsi sebagai manusia.
Akhir cerita dari perjalanan, melepas Jum’at yang keramat, aku gerakkan jari-jemari untuk menari. Abjad tersusun tak rapi, ditemani segelas kopi, aku mengenang nostalgia malam tadi. Mengenang lelaki itu, dimana salah satu teman ku berkata dengan nada tanya “apakah dia itu orang gila?”. Aku pun beranikan hati menghina diri sendiri dengan berkata “mungkin (aku) juga gila”
Shalawat dan salam pada Paduka, Ya Rasulallah, aku merindukan mu…

Lepas jum’at, menatap benteng dan bidak
Digerakkan teman dengan otak
Terdengar dahsyat beberapa kali berteriak, skak!
Namun sayang, tak juga mat, karena lawannya selalu bertindak
11032010                                             Jam 13.05 Wib

   

Sabtu, 06 Maret 2010

Mengapa Aku Menulis?


Engkau bisa mengenalnya karena ia pernah mencantumkan nama. Tercantum sebagai penulis dalam sebuah kolom yang diterbitkan salah satu media. Tentu, itu tak sekali, namun engkau lupa pastinya berapa kali, sebab hari-hari mengantarkan mu pada ingatan yang diajak pada kelupaan. Tulisannya sempat menarik perhatian mu, walaupun membacanya seringkali tak sampai tuntas, hanya selintas, namanya saja yang membekas. Sempat kau bertanya tentang nama penulis itu pada beberapa orang, namun tak juga pernah engkau mendapat jawaban yang sempurna. Kebanyakan dari mereka yang kau tanya memberikan jawaban yang berbeda. Ada jawaban yang menerka-nerka, atau menyebutkan seenaknya, bahkan ada yang menjawab dengan mengernyitkan dahi saja, pura-pura mengenalnya. Rasa keingintahuan tentang pemilik nama itu pernah menjadi pikiran mu sementara, namun selalu hilang setelah kau pejamkan mata. Setelah datang pagi, pikiran mu tak lagi berdiri tentang sosok itu lagi, pasti telah berganti dengan pikiran baru yang datang menjejali.

Engkau bukan penulis seperti dia, hanya anak jalanan yang pura-pura berwawasan. Kalaupun engkau menulis, itu sekedar menyampaikan ketidaktahuan atau menerka-nerka dengan mengutip sana-sini apa yang disampaikan orang-orang pintar, agar engkau terlihat gagah punya pemikiran. Ah, tak pernah perduli kau pada anggapan orang yang tahu bahwa tulisan mu penuh dengan copy-paste. Kau cuek saja dengan bergaya intelektual padahal tulisan mu berbaris gombal. Kalau ada komentar miring tentang tulisan mu, kau selalu membela diri, bahkan merasa pintar sendiri. Menulis bagi mu sesekali, saat engkau tak punya kerja, karena mengharapkan honornya saja. Kadangkala honornya kau biarkan, tak kau hiraukan kalau masih punya simpanan, namun bila disaku sisa koin recehan segara engkau ke redaksi seperti orang menagih utang. Jika tulisan mu terbit, segera mungkin engkau sibuk menggunting koran, untuk arsip ucap mu kegirangan, bagaikan dokumen perjuangan dirasakan, sungguh kepongahan. Kadang, engkau menulis karena tak dapat memejamkan mata tentu tak berbobot isinya, atau sedang habis membaca sebuah karya yang kau anggap luar biasa, padahal bagi orang-orang sekitar mu referensi itu biasa-biasa saja.

Kembali pada hasrat mu untuk mengenalnya, tak jua kau temukan jawabnya. Siang diselimut malam, malam ditutup bulan, bulan habis berhitung tahun, tahun lepas berganti baru, belum pula kau melihat sosoknya. Media yang memuat namanya sudah jarang kau baca, karena engkau telah berhenti berlangganan. Alasan mu karena media itu hanya lebih mengutamakan kolom iklan daripada berita, padahal sesungguhnya kau berhenti karena loper koran tak lagi mengantarnya. Engkau sering menunggak untuk membayarnya. Bahkan kabarnya, dua bulan terakhir jika ditagih kau selalu pura-pura lupa menyimpan uangnya. Hingga pengantar koran pun berkesimpulan memecat mu menjadi pelanggan. Itu membuat mu tak lagi pernah membaca tulisannya, atau memang dia sudah tak lagi menuliskan gagasan atau pikirannya.

Selayang pandang, waktu berjalan lepaslah ia dari ingatan, penasaran hilang dalam pingitan, kegelisahan terjerembab dalam kesibukan. Walaupun kesibukannya hanya pura-pura agar terlihat sama dengan manusia yang benar-benar sibuk pada profesinya. Engkau melanglang buana, sembilan puluh sembilan persen tak lagi mengingatnya. Tiba-tiba, entah hari apa engkau menelpon seorang sahabat yang belum lama dikenal, bahkan hanya dua kali engkau bersemuka. Bertanya kabar dan berbasa-basi lainnya sambil tertawa. Lalu sahabat mu penuh canda ingin mengenalkan temannya, yang katanya juga seorang penulis seperti mu. Engkaupun segera mananyakan namanya, dan tanpa curiga teman mu menyebutkan sebuah nama. Memori mu bekerja mengingat nama itu, mengorek semua nama yang pernah kau baca dimasa lalu, dan memori mu mengingatnya bahwa pernah mencarinya. Segeralah kau minta nomor teleponnya, dan selepasnya kau segera mengirimkan pesan singkat pada dia, nama yang baru saja kau mengingatnya, pernah terekam sekian lama.

Pesan singkat mu bagikan professor tersohor, sambil menyebutkan nama engkau menyampaikan bahwa engkau seorang penulis yang pasti dikenal olehnya. Dia pura-pura mengenal, mungkin karena tak mau membuat mu malu jika mengatakan tak pernah membacanya. Lalu, hampir menjelang maghrib kau memberanikan diri menghubunginya, mendengarkan salamnya, dan bercerita dengan mengaku diri sebagai penulis. Engkau segara mengatakan bahwa telah lama mencari namanya, namun itu dulu saat jemu belum menghantui karena letih dan lesu mencari namun tetap misteri. Suara disebarang sana mengiyakan dengan keramahan dan canda kecil yang disuguhkan. Hingga kau lupa bahwa adzan maghrib sedang berhembus menuju telinga. Tit, tombol off kau tekan setelah salam penutup kau sampaikan. Tampak berbinar mata mu, tampak riuh gemuruh dada mu karena nama yang pernah dicari kini telah bicara tanpa bersemuka. Ah, tentu tak penting bagi mu, karena suara lebih bermakna daripada bersemuka tanpa mengenalnya.

Namanya kau rekam di dunia maya, berteman dengannya. Setiap waktu luang engkau online selalu melihat diarinya, membaca apa yang sedang difikirkannya, jika berkenan kau mengomentarinya, meskipun hanya bercanda. Tulisannya yang tersimpan dalam seboah blog habis kau baca, kau menyelami sajaknya, kau pahami artikelnya, kau resapi catatan kecilnya. Tak ada kata dari pikiran dan hatinya yang kau lepaskan dari sorot mata, karena jika lepas satu huruf saja bisa beda kau memahaminya. Tulisan-tulisannya yang berkemas, menyampaikan kabar tersendiri tentangnya, walaupun kau belum pernah bersemuka. Ada yang asik dari cara dia membakar semangatnya, merenungkan perjalanan, menyusun rencana, dan mengoreksi dirinya. Hingga ada beberapa judul yang kau ulang membacanya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Bukan karena apa, karena engkau terpesona dengan cara dia mengungkapkannya. Semuanya tampak indah walaupun setiap mata atau rasa berbeda dalam meresapinya. Namun, bukankah keindahan adalah nilai tertinggi dari kehidupan manusia?

Tetes hujan berjongkok dipelataran, saat pesan mu masuk padanya untuk bersemuka, namun tak ada jawaban engkau dapatkan. Gelisah tentu kau tunggu jawaban, penasaran berburu, toko buku janji bertemu. Pesan yang dikirim terbalas sudah, tinggal waktu saling tanya untuk mencari masa bersama. Semua berjalan ikuti irama rencana, perlahan tanpa terasa, kau menginjakkan kaki disana, duduk sendiri menunggu kedatangannya. Biografi tebal tentang seorang tokoh pejuang kau letakkan dipangkuan agar engkau dikira pemikir, padahal jika dirumah untuk menyisihkan waktu membaca buku engkau paling kikir. Duduk dengan menyilangkan kaki penuh keseriusan, padahal hari-hari mu hanyalah diisi dengan canda dan gurauan. Engkau kembali berpura-pura, kemarin menulis dengan berpura-pura, sekarang pura-pura membaca, entahlah bisa jadi esok engkau akan pura-pura gila….

Pertemuan mu dengannya penuh obrolan, dari tuturan terlambat datang hingga menjawab teka-teki yang tak silang. Melupakan kesopanan, engkau makan duluan, karena tak bisa menahan lapar. Dengan alasan ingin merasakan tempat makan baru, padahal cacing perut mu sedang menderu. Dia tersenyum saja dan memaklumi kelaparan mu, bahkan dia rela menunggu sambil menghindar dari lambaian asap rokok mu. Layaknya pelayan yang menyajikan dengan cepat, engkau mengunyah nasi dan ikannya secepat kilat, hingga dipiring tersisa tinggal tulang belulang yang mengkilap.

Sisa sepenggal lagi kisah mu, karena ruang yang tersedia sungguh terbatas. Engkau berjalan pulang. Sesekali engkau mencuri pandang, karena untuk menatapnya dengan sempurna engkau tak pernah berani sebenarnya. Kalaupun engkau punya nyali, dia belum tentu mau, karena paras mu tak memiliki rona, apalagi untuk terlihat sedikit saja bercahaya. Itu bisa jadi, walaupun tak ada bukti. Hambat waktu, tak ada kenang jika membisu, engkau tersenyum tersipu malu, namun hati menjadi ragu. Penuh tanya, benarkah itu sosok yang pernah kau cari namanya? Setelah bertemu, entah karena apa sebabnya, engkaupun bingung pegang kepala.

Engkau bisa mengenalnya karena ia pernah mencantumkan nama. Sederhana, dengan sebanyak jari tangan kau bisa menuliskan namanya, dengan selebar telapak tangan engkau dapat lukiskan ranum wajahnya, Dan hanya dengan baris terakhir tangan mengirim pesan engkau telah menemukan keyakinan dalam sebuah pencarian.

Mengapa aku menulis?
Jawabnya untuk mengingatkan mu, bahwa:
Engkau bisa mengenalnya karena ia pernah mencantumkan nama…


Pagi Yang (Tak) Jadi Tidur
Cara unik menertawakan kita sendiri…..
11 Februari 2010

Selasa, 23 Februari 2010

Mengapa Engkau Terlalu Baik?


Pesan singkat dari mu selalu ku nanti, untuk sebuah isyarat yang berarti. Gadis, engkau mulai menghafalkan jalan pergi, semoga Tuhan selalu mengingatkan mu bahwa aku masih disini. Maaf, semoga ini bukanlah sebuah kesalahan, karena aku mengatakan sebuah keyakinan…….

***

Awalnya, engkau ku kenal melalui abjad yang berserakan dikoran, yang ku ambil satu persatu untuk ku susun menjadi sebuah nama. Ku cari nama itu, walaupun tak pernah ku temui. Mencari sebuah nama dalam kota kecil yang sampahnya berserakan dimana-mana. Hingga pupus ku menemukan mu tiba, dan aku hanya menjadi penanti sebuah nama, perlahan aku melupakannya, karena ingatan yang menuju senja. Nama itu mampu ku ingat setelah disebut seorang sahabat. Dari sebuah nama menjelma dalam bentuk suara yang ku dengar, dari sebuah speaker kecil yang katanya madein Firlandia.

Lepaslah cerita pertama bertatap muka, hingga selanjutnya. Kita sering berpesan singkat dan bercerita lewat suara. Banyak hal yang kita bagi mulai dari pikiran, saran, kritik atau bahkan sekedar canda tawa yang mungkin tak berarti apa-apa. Tanpa sengaja beberapa kali engkau menitikkan air mata. Engkau mengatakan, bahwa aku hanya membuat kesedihan pada mu. Tentu, kau sah menganggap ku begitu. Karena sejak kita kenal, telah tiga kali kau gagal mempertahankan air untuk tetap berada di dalam mata, buncah tumpah meluah.

Kemarin aku melihat tulisan mu di dunia maya, yang beberapa kalimatnya sempat ku tanyakan lewat chatting kita. Aku bertanya karena engkau mengajak ku membacanya, sehingga pantas jika aku bertanya untuk mengetahui makna sebenarnya. Dalam titik dan koma yang kubaca, aku begitu bahagia, karena tulisan mu mulai tampak merona, hidup. Perlahan kau sudah melintasi ruang keterpurukan dan kembali bangkit untuk membuka diri pada sesama. Oh ya, aku lupa, engkau menjelaskannya dengan sederhana hingga aku mudah mengertinya.

Selepas maghrib aku duduk dipelataran. Aku makan sendirian dengan nasi bungkus yang dibelikan seorang teman. Mengandalkan cahaya bulan karena rumah gelap tanpa penerangan. Lalu, aku ingat pesan Konfutze bahwa lebih baik menyalakan seutas lilin daripada mengumpat kegelapan, dan itu ku lakukan. Nikmat ku mengunyah makan sambil ditemani senda gurau yang kau kirim lewat pesan. Kita berkelakar tentang kemampuan menggoreng ikan. Saling membalas pesan pun terus berlangsung hingga rasa lapar telah terlunaskan.

Aku duduk bersama teman-teman dan tertawa tentang menjodohkan dua insan yang tampak malu-malu dan sedang duduk dihadapan kami bersama. Dua anak manusia itu tersipu malu-malu, dan semakin kencanglah ocehan diantara teman-teman yang ingin menjodohkan. Aku terlibat didalamnya, sambil berbaring membalas pesan singkat mu dengan apa adanya. Lama-lama pesan singkat yang diawali dengan senda gurau berubah menjadi sebuah keseriusan. 

Kita terlibat pembicaraan tentang keinginan untuk sebuah masa depan. Kau mengatakan rasa yang tak sempurna tentang kehadiran ku yang membawa nuansa jiwa. Engkau masih terus membalas pesan ku dengan bertanya mahar yang bisa ku tepati dengan diakhiri tanda kau bercanda. Dan aku menawar mahar yang kau pinta sambil terus terlibat canda tawa dengan mereka yang terus menjodohkan sepasang manusia. Pembicaraan kita mulai lain setelah kau meminta ku untuk belajar mencintai orang lain. Dengan sejujurnya aku berkata bahwa aku tak bisa, karena keyakinan sudah tak bisa ku elakkan.

Obrolan perjodohan yang diawali dengan canda tawa berubah menjadi kekesalan diantara salah satunya. Langkah ku menghindar dari ruang bersama menuju kesendirian. Aku melepaskan letih dalam kamar yang gelap, dikala listrik dikota ku sering tersendat. Ada pesan yang ku terima dalam sebuah handphone usang yang ku pegang, seutas kalimat yang tak ku ketahui rasanya saat kau menulisnya, dan aku hanya membisu saat membacanya “Kenapa abang ni terlalu baik?” itu pesan sederhana mu yang tak dapat ku jawab dengan sempurna.

Pesan mu itu sulit untuk ku jawab, karena menyangkut kekuatan fikiran dan hati yang terus diuji. Aku hanya bisa menuliskan kekuatan itu sebagai balasannya. Pesan mu sudah didepan mata, bahwa untuk tidak lagi menjalin sebuah komunikasi sebagai solusi. Ajakan itu karena kebaikan mu sebagai gadis yang tak bisa melihat ku kecewa pada nuansa. Aku berpasrah atas keinginan yang kau ucapkan, karena aku menanamkan keikhlasan yang terus berjalan. Aku tak menyalahkan mu, mungkin aku datang pada waktu yang telat atau pada waktu yang begitu cepat, atau sebagai orang yang kau anggap tak tepat.

Engkau gadis yang terlalu baik, tercermin dari pesan mu yang dikirim pada ku, engkau tak mau terlalu jauh, dengan kau memilih langkah untuk menjauh. Aku tak tahu, apa yang ada dipikiran mu yang sebenarnya, bisa jadi engkau takut untuk diuji, atau engkau khawatir lolos dari ujian itu. Entahlah, aku masih menunggu pesan singkat dari mu….

***

Maaf, jika saat menulis ini aku mengirim pesan singkat tentang subuh yang teduh. Walau ku tahu pesan itu tak mungkin lagi berbalas, namun aku menekan nomor mu dengan ikhlas…..


Gelap, izinkan aku menatap
23 February 2010