Tampilkan postingan dengan label mengarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengarang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

Sandal Jepit dan Hati Terhimpit



“bisikan tentang mu telah berkarat,

sulaman hati telah dilipat,

nostalgia tak dapat diingat.

bukan karena pikun,

tapi mata sudah melepas lamun,

dan aku telah mulai menenun"





Harga sepasang sandal jepit ku mungkin tak seberapa. Aku membelinya dari toko sebelah rumah yang penjualnya longgar dalam tawar menawar. Setelah harga sama liur antara aku dengan penjual, ukurannya sandal tak ada yang pas, ada yang kebesaran dan ada yang kekecilan. Tak ada yang benar-benar pas dibelakang dan dimuka. Sipenjual merayuku untuk sabar, dia berlari kebelakang membongkar gudang. Dibawanya empat sandal jepit yang katanya baru, walau ku pandang kelihatan usang. Aku mencobanya satu persatu. Tiga diantaranya terlalu besar dan hampir saja aku batal. Sisa satu yang belum dicoba, ternyata size nya sesuai dengan yang ku cari dan cocok ketika dicoba. Maka, jadilah aku membelinya, seharga sebiji permen bagi orang kaya.

Sandal jepit itu terasa ringan untuk dilangkahkan. Sehabis magrib, beranjak dari pelataran masjid. Tampak semangat untuk segera pulang, ingin membaca pesan yang datang. Sejak tadi memang gelisah, sejak takbir hingga usainya do’a. Terlihat dari gerakan shalat bagai bersilat, bibir komat-kamit terdengar sengit. Jika bisa imam pun ingin diganti, agar tak melantunkan bacaan dengan mendayu karena membuat dada kian memburu. Setelah salam ke kanan dan kiri tak lantas berdiri untuk pergi. Demi menjaga kesopanan masih ikut wiridan, walaupun membaca pelan karena berbagi dengan pikiran. Nah, itulah riwayat ku menyambut petang kemarin. Menanti jawaban tentang sebuah ajakan, lewat sebuah pesan yang ku kirim menjelang adzan.

Ditepian sungai kita janji bersemuka, di sudut jalan yang bangunannya tampak mulai berlumut. Sandal jepit menjadi alas ku menghampiri mu, untuk mendengarkan sebuah keluh kesah. Keresahan yang tampak mengganjal dihati mu, tentang pria sejati. Tanpa terasa kita sudah saling pandang dengan senyuman, dan kau mulai menyapa ku dengan salam.

“ada apa dengan mu, baiknya engkau ceritakan” aku meminta

“engkau laki-laki yang baru ku kenal dalam sebulan, semoga bisa menjadi tempat aku bercerita, tanpa paksa, dan entah dorongan dari mana” ujar mu merona

Bersahutan burung gereja menyanyi, disela itu mulailah kau bercerita. Aku menjadi pendengar setia, dengan sesekali bertanya. Cerahnya langit biru, memudahkan ku mencuri wajah mu, untuk ku tabung disaku hati ku. Diam-diam cerita itu ku rekam, dan ku ringkas dalam catatan harian.


*****

Engkau, gadis kecil nan mungil dari sebuah desa. Datang ke kota kecil ini untuk menjalankan Iqra’ yang diperintahkan-Nya. Engkau kenakan seragam putih abu-abu dengan berjalan kaki, kau sapu debu jalanan sepenuh hati. Setiap hari engkau hanya berkutat dengan pelajaran yang harus dipahami. Hingga suatu waktu ketika sekolah usai menyerahkan ijazah, engkau didekati oleh seorang pria yang sudah kuliah. Pria itu mengenalkan pada mu tentang keindahan kota kecil ini, mengajak mu berjalan bersama teman-teman. Perlahan, laki-laki itu menaruh perasaan pada keindahan paras mu yang elok dan rupawan. Indah rona mu dibalik jilbab putih yang berseri, membuat laki-laki itu terus mencoba untuk mencintai. Engkau tak pernah mengatakan rasa yang serupa, namun sulit sekali hati mu menunaikan pinta untuk mencintainya. Tak ada kata cinta yang kau ungkapkan karena hingga diperguruan tinggi pun tak jua kau rasakan.

Hingga suatu waktu, lelaki itu harus pergi ke seberang sana karena tugas pekerjaan yang tidak boleh dielakkan. Engkau melepasnya dengan kesedihan walau air mata tak kau jatuhkan. Merasa kehilangan sebagai seorang gadis yang ditinggalkan, hanya sebaris do’a yang kau iringkan. Bersama lajunya pesawat yang terbang meninggalkan negeri ini, disaat itu pula benih cinta mulai bersemai. Sayang lelaki itu pergi, kembali lagi engkau pada kesendirian, yang hanya berkutat dengan tugas dan diktat. Melepas kepergiannya dengan mata terbuka dan telinga yang menganga, menanti kapan ia akan kembali menyapa. Selama ia disana tak ada surat yang kau dapat, dan tak ada pesan yang dikirimkan, hingga ayah mu membelikan sebuah telepon genggam. Dia mengetahui nomor ponsel mu dari seorang teman, dan komunikasi pun kembali berjalan diantara kalian.

Di suatu hari yang kelabu, engkau menyapa pria itu lewat sebuah pesan. Namun sayang, seorang perempuan menelpon mu dengan teguran, untuk tidak mengganggu kekasihnya. Engkau terkejut bukan kepalang, karena laki-laki yang mulai bersemai dihati diambil orang. Walaupun cinta tak pernah engkau ucapkan sejak perkenalan hingga ia pergi, namun seharusnya dia telah mengerti bisikan mu selama ini. Cinta yang pernah bersemi mulai layu kembali, karena hati diseberang sana tak lagi menyirami. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, itulah pribahasa yang pas untuk menggambarkan suasana hati mu saat itu. Perlahan dan pasti, mulai hilanglah perasaan yang sempat muncul, terenggut oleh rasa hati yang terpukul.

Siang malam tak lagi kau menghiraukannya, kau kuat dengan sikap yang sigap. Hingga bertahun dari peristiwa itu, kau mengenal seorang pria sejati yang kau cari untuk meluluhkan hati. Kau mencintainya dengan sejuta pesona, pria yang bertanggujawab dan penuh pengertian. Mengayomi mu bagaikan seorang ayah memeluk anaknya yang kedinginan. Kau menjalankan hati mu dengan tak menampakkan rasa, berpura-pura. Engkau mendiamkan cinta di hati dengan segera mengalihkan pandangan mu bila berpapasan dengannya. Jika terpaksa bertatap muka, engkau hanya terlibat dalam canda dan tawa, seakan tiada cinta. Engkau membohongi perasaan mu dengan segala daya upaya. Hingga rasa itu memendam membentuk lingkaran yang memancarkan, namun tak jua kau ungkapkan. Pria yang kau cintai itu tahu bahwa kau punya rasa padanya, dan mungkin dia juga begitu, menurut tebakan mu ketika bercerita pada ku. Setiap pertemuan yang berlangsung dalam sebuah acara, lelaki idaman itu datang dengan membawa pacarnya. Engkau diam tak bisa berkata apa-apa, hanya mengalihkan pandangan mata, menutup hati yang kecewa.

Diam mu bagai disangkar emas, hati indah namun tak bisa mengepakkan sayap. Engkau tetap memilih untuk tidak mengungkapkan, karena hati mu tak ingin menghancurkan hubungannya dengan seorang gadis yang telah terjalin sekian lama. Sungguh perih cinta tak berbalas, walau berusaha belajar ikhlas. Tak ada keikhlasan jika indahnya hati mu disesalkan. ikhlas yang sempurna hanya memberi tanpa berharap untuk berbalas. Setiap dalam keheningan malam, engkau mengadu pada Tuhan untuk mendapat petunjuk jalan keikhlasan. Semuanya tetap berjalan, engkau tak bisa melepaskan, selalu membayang dalam angan. Bersama dengan keikhlasan yang ingin kau dapatkan, pria yang pernah meninggalkan mu pun datang kembali ke kota ini dengan seutas harapan.

Pria yang pernah mengisi hari-hari mu sejak usai berpakaian putih abu-abu, kau sambut tak secerah dulu. Tak ada lagi yang tercecer dihati dari nostalgia yang telah terhapus semua. Kau kembali dalam kekosongan walau dia tetap mengharapkan. Dia ingin berpulang kepangkuan mu, dan berharap hati mu tetap menunggu. Dia berpikir perasaan mu seperti dulu saat pesawat terbang membawanya pergi melaju. Tak pernah dia membayangkan bahwa sekian banyak laki-laki menunggu putusan hati mu. Dia masih meyakini bahwa hanya ada dia yang pernah menyinggahi perasaan mu yang indah dan cerah. Pria berambut lurus ini selalu mengajak mu untuk menikah, membawa mu terbang untuk menghadapi masa depan. Apalah artinya hidup, jika cinta hanya mengandalkan logika tanpa memahami hati, atau sebaliknya. Engkau selalu menolaknya, karena rasa setetespun tak lagi membasahi relung hati. Dia selalu berkilah bahwa selama ini selalu menunggu mu. Engkau merasa perjalanan yang dilakukan, berhenti ditengah jalan ketika semangat mulai menghangat, itu menjadi makna tersendiri hingga menghentikan perjalanan sebagai sebuah keputusan, bahkan hingga membakar peta tujuan. Engkau malah memberinya jalan untuk mempersunting gadis yang lain, karena cintanya tak lagi mempesona. Tanpa kejelasan, air mata pun akhirnya kau teteskan.

Engkau menangis bukan karena lelaki yang pernah meninggalkan mu ke pulau seberang, yang kini telah datang. Ternyata engkau menangis karena pria sejati yang hatinya kau tambat namun tak terjawab. Lelaki yang telah mengenalkan sakitnya arti kecewa mencintai sesama. Lelaki yang mencintai seorang gadis, yang tak lain dan tak bukan kekasihnya itu sahabat mu sendiri. Engkau mencintai kekasih teman sejawat, ibarat pagar hendak makan tanaman. Engkau telah berusaha mengelakkan, namun hati tak dapat dibohongkan. Engkau terus menangis karena merasa sakit untuk diceritakan. Aku turut bersedih namun harus bisa menahan untuk dapat fokus mendengarkan .


*****

Setelah beberapa lama, sandal jepit yang ku kenakan sepertinya terasa menyakitkan. Saat duduk santai dipelataran rumah yang lantainya mulai banyak kebobolan. Diantara lengkungan karet yang menancap pada alasnya terdapat serpihan tajam tak beraturan. Aku menggeliat mengubah posisi kaki, karena tak mau tersakiti. Menyita waktu merapikan sandal jepit tersayang agar nyaman untuk dipakai.

Tiba-tiba, teringat pada suara mu dibalik handphone murah ku beberapa hari yang lalu, yang telah tampak ceria. Engkau sudah sedikit demi sedikit melepaskan goresan hati yang pernah perih. Selain karena engkau mengadu pada Tuhan, luka itu telah sedikit terjahit dengan keceriaan kita berkenalan. Walaupun beberapa kali engkau sempat mengalirkan air dipipi ketika kita larut dalam obrolan. Itu bukan karena aku menyakiti, namun karena aku mengajak mu lebih dewasa dan lebih memahami makna hidup yang sebaiknya-baiknya. Kita seringkali terlibat saling menyarankan, hingga semuanya tanpa terasa berjalan dengan nyaman. Tak ada rasa dihati mu walaupun aku selalu tersipu.

Selayang pandang, pekat malam terhias bias terang, kita menutup perbincangan lewat pesan singkat yang saling berbalas.

“setelah sekian lama aku mengadu pada Tuhan disaat malam, sambil aku menata hati, aku telah mulai ingin membuka diri. Mulai hari ini, dengan keikhlasan yang telah hadir, mengajar ku untuk kembali membuka tabir” isi short message mu di mata ku.

“syukur, semoga itu sebuah jalan, untuk mencapai sempurnanya keikhlasan. Ikhlas adalah kemampuan menerima dengan lapang dada atas sebuah peristiwa yang membuat kecewa” balas pesan ku.

Cantik rembulan diatas atap, tak jua mata ku ingin terlelap. Tadi siang aku telah berjanji pada mu, untuk menuliskan sebuah cerita tentang mu. Walaupun kau tampak ragu, namun aku berhasil meyakinkan mu. Nama mu tetap ku rahasiakan, tak boleh aku sebutkan. Aku hanya menulis sepenggal hati mu, sebuah nama yang telah terbingkai dalam hati ku yang paling dalam. Engkau, seorang gadis berkerudung putih yang kutemukan, dalam kesederhanaan dan kebersahajaan.

Aku duduk diam-diam, rasa ngantuk ku tahan, meskipun air mata mengalir keletihan. Menyelesaikan cerita mu bagi ku sebuah kewajiban, karena janji harus ditunaikan. Sambil melihat jam tangan yang melingkar, aku selesaikan alenia terakhir tentang sejengkal jalan.

Engkau kini telah bisa terlelap dan makan yang lahap. Dengan menyimpan sekeping hati, kau menjalani untuk menemukan sosok pengganti. Engkau telah ditawan dengan seabrek kesibukan dari terbit matahari hingga tenggelam diufuk malam. Mulai sepi guratan kesedihan yang terdengar dari obrolan, walaupun aku tak tahu yang sebenarnya. Gadis, benarkah engkau telah mengikhlaskannya, atau engkau sedang berpura-pura?

Selepas menyimpan sandal jepit yang mulai kembali nyaman bila dikenakan, mata ku tak lagi bisa menahan, ku akhiri saja cerita ini dengan permohonan. Maaf gadis, jika cerita ini tak mewakili hati mu, sehingga tak enak untuk dibaca, apalagi bila dieja…


Usai Bola Dipelupuk Mata

Subuh, Pertama Engkau Yang Ku Sapa

10032010                            05.29 Wib

Minggu, 21 Februari 2010

Cinta Itu Sekali, Sahabat Ku… (Cerpen)


Engkau datang ke kota tua untuk menimba ilmunya, mendengarkan dongengnya, dan mempelajari budayanya. Semangat mu kala itu sungguh menggelora, banyak perpustakaan kau kunjungi dengan bermodalkan kerangka besi tua yang seringkali menyusahkan mu ditengah kebisingan jalanan. Tak ada saudara atau bahkan teman sekalipun ketika pertama kali kau injakkan kaki disana. Bermodalkan keinginan, engkau datang bersama sejuta harapan. Kau tampak sangat kalem untuk ukuran seorang pria kekinian, supel dan bersahaja. Tak ada keinginan yang berlebihan untuk bergaul ala kota tua, kau asing dengan namanya pergaulan bebas, bahkan tak pernah kau pahami seperti apa bentuknya. Perlahan-lahan engkau pun mulai mengenal dan dikenal oleh teman-teman yang datang ke kampus untuk belajar. Bersamaan dengan perkenalan itu pula maka mulailah cerita hati itu kau lukiskan.

Saat enam bulan pertama engkau tampak gelisah di kota itu, karena hanya sibuk dengan rutinitas layaknya menempati sebuah kota baru, menghafal jalan sambil mencari rumah kontrakan. Tentu itu tak menyenangkan, hingga kau beli peta kota untuk bisa berjalan dengan penuh panduan. Engkau masih canggung terhadap budaya lokal dan keramahan yang ditawarkan, termasuk keelokan para gadisnya. Selanjutnya, perlahan namun pasti kau berkenalan dengan banyak orang dan para gadis yang penuh senyum kembang rupawan. Satu persatu kau jabat tangannya seraya saling menyebutkan nama dengan rupa yang merona. Tampak banyak gadis yang menjabat tangan mu mulai akrab berbincang, jalan bersama, bahkan tak luput kau diundang untuk datang pada pesta yang diadakan oleh salah satu dari mereka. Engkau pun mulai betah berada di kota tua itu, sambil penuh senyum, engkau pun tebarkan pesona yang penuh misteri. Kau tampak alim dimata banyak wanita, yang perlahan-lahan kau jebak hati mereka untuk ingin selalu bersama.

Di kampus kau tampak lugas, berpendapat dan penuh semangat didalam kelas. Diluar kelas, kau selalu bisa menyesuaikan pembicaraan walaupun nada mu santai perlahan. Dengan kelembutan mu kau tarik hati para wanita pada perangkap misteri yang kau miliki. Bahkan tak jarang dari mereka merebahkan tubuhnya dihadapan mu seraya mendesah penuh pasrah. Para gadis itu mulai rindu akan rayuan mu, kebohongan dan atau kegombalan mu yang tak pernah mengungkapkan cinta pada mereka semua. Kau hanya memberikan perhatian yang baik, dan selalu hanya berujar tentang kasih dan sayang, yang mereka maknai bahwa kau mencintainya. Engkau tampak bahagia pada semua yang berjalan, pada dimana kota tua itu tak lagi membosankan bahkan sangat mendamaikan hati mu dengan kemesraan.

Semuanya berjalan melampaui yang kau harapkan, ada nuansa baru yang membuat mu tak lagi menggerutu seperti dulu. Kau kini tak hanya sibuk bicara tentang makalah dan buku melulu, namun telah disibukkan dengan jadwal mesra bersama bunga yang bergonta-ganti parasnya, tingkahnya dan keeratan pelukannya. Kau sibuk menyusun alasan jika diajak kencan oleh dua gadis atau lebih secara bersamaan. Kau menjadi laki-laki yang tak tahu apa gunanya setia dan makna cinta, bahkan untuk mengeja dua kata itu saja, engkau tak bisa.

Engkau menikmati perjalanan yang memuaskan nafas mu, sebagai laki-laki yang banyak diminati. Hampir tak ada halangan berarti dalam usaha mu untuk memikat hati para gadis yang baru engkau kenal, atau sekali pandang menarik bagi mu untuk ditaklukkan. Tak ada yang begitu ruwet atau membutuhkan pengorbanan yang berlebihan, semuanya kau atur semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan jika kau bosan kau lupakan tanpa ada keputusan, cukup menghilang dengan alasan sejuta kesibukan. Hampir semuanya berjalan sesuai apa yang engkau rencanakan dalam urusan menaklukkan hati kaum hawa ini. Dengan pembawaan yang santai, mulai banyak para gadis yang jatuh terkulai dipelukan mu yang mereka rasakan damai. Hingga, pada pertengahan jalan kau temukan bunga yang semerbak wanginya, namun kau tak menyadarinya, bahwa suatu waktu hati mu akan menangis karena kehilangannya.

Bunga itu hanya kau jabat tangannya, seperti biasa saling menyebutkan nama. Bagi mu ia bukan bunga yang kau cari, karena ia biasa saja, ala kadarnya. Gadis pembaca itu kau jadikan teman sejawat, penuh obrolan tanpa rayuan, penuh diskusi tanpa kompromi, penuh alasan tanpa perasaan, setulusnya menjadi teman untuk belajar, layaknya teman pria. Tak ada ungkapan perasaan walaupun engkau berjalan berduaan, semuanya tampak biasa saja, bahkan gadis itu tahu bahwa engkau laki-laki yang banyak simpanannya. Walaupun gadis itu sering menasehati mu, engkau tak pernah ambil tahu, bahkan pura-pura malu meskipun sejuta alasan tetap kau lampirkan dalam pembicaraan. Kau tetap menjalankan agenda menjerat hati wanita yang mempesona, namun gadis yang sedang akrab dengan mu itu tak mau ambil tahu, ia tetap berperan layaknya saudara meskipun mulai ada tetesan rasa dihatinya. Engkaupun mulai tampak serupa, mulai merasa bahwa gadis itu sosok yang mengimbangi ronta kenakalan mu.

Dituntun waktu yang terus menggeliat, gadis itu hanya bisa menyimpan rasa yang berusaha dilawannya. Dia terus melawan rasa yang ada, ketika dihadapannya dia selalu yakin bahwa engkau laki-laki yang sulit untuk berubah dengan hatinya. Dia sadar bahwa laki-laki seperti mu tak bisa diajak untuk bicara tentang cinta dan rumah tangga. Gadis itu tak mau membiarkan dirinya terjebak dalam pelukan laki-laki yang tak pernah mengerti arti kesetiaan. Hingga waktu pun akhirnya mengantarkan si gadis untuk memutuskan, melangsungkan perkawinan, tanpa mu sebagai pasangan. Engkau hanya tersenyum ketika gadis itu menyampaikan niatnya, hidup bersama laki-laki lain yang dikenalnya dengan mengayam mahligai baru. Engkau mempersilahkan tanpa ada beban sedikitpun seakan penuh keikhlasan. Dan berlangsunglah perkawinan itu dengan beribu kemeriahan serta senyuman yang terhias dipelaminan. Engkau hadir ditemani rasa kebahagian seperti semua undangan. Sahabat yang selama ini dekat telah pergi dengan jari yang terikat untuk sehidup semati bersama pria yang dipilihnya, setelah ketidakjelasan sikap mu. Setelah pesta pesta itu usai, engkau masih terus sibuk dengan rutinitas seperti biasa, menemui para selir yang selalu menanti, bahkan ada yang sanggup mati demi dimiliki.

Seiring dengan usainya masa mu menuntut ilmu, engkau bungkus semua pakaian dan kenangan berjalan pulang ke desa mu. Meninggalkan kota tua itu dengan sejuta kalbu dimana disanalah engkau laksana pangeran muda, yang kasih sayang terhadap para selirnya hanya cukup basah dibibir saja. Engkau pulang dengan meninggalkan kehangatan yang terus membekas dihati mereka yang pernah merasakannya. Bahkan engkau pulang, dengan dibekali air mata mereka yang selalu berharap pintunya diketok oleh mu. meski ditengah malam buta. Dan engkaupun terus melangkah pulang...

Kemarin, aku menerima telepon dari mu dipagi hari buta. Kau mengatakan sedang ada dikota ku untuk sebuah kerinduan. Aku bahagia dan berusaha menemukan mu, namun aku tak bisa. Berselang beberapa pergantian siang dan malam engkau kembali mengirimkan pesan singkat untuk bertemu dengan ku, dan aku menyanggupi tanda setuju. Malam mulai menenun kegelapan, dan kita mulai menginjakkan kaki di sebuah warung kopi, engkau hadir telat karena tempat yang tak lagi kau ingat. Dibawah lampion merah kita bercerita, bercengkerama tentang nostalgia, politik, akademik, sahabat, cinta dan segala yang ada pada diri kita berdua. Dan tentang gadis itu yang kau sebut namanya dengan penuh arti, hingga aku paham tentang apa yang ada dihati mu saat ini. Pikiran ku bergerak dan aku tahu makna kehadiran gadis yang satu itu di kota tua bagi mu, engkau daulat dia sebagai sahabat, padahal dialah puja hati yang sebenarnya. Engkau selalu menepis makna kehadirannya hingga akhirnya ia memilih jalannya, melupakan rasa sesungguhnya. Dialah wanita yang sanggup menjinakkan hasrat mu.

Diusia yang mulai memasuki paruh baya, engkau mulai sadar makna hadirnya silam yang penuh cinta. Bunga yang awalnya engkau anggap biasa, ternyata semerbaknya harum mewangi setelah ia pergi. Engkau tampak keletihan dalam untaian cinta sejati yang telah kau lepaskan berlari. Dalam guratan rona mu yang ku terima engkau tampak menyesalinya. Kita lepaskan semua cerita masa lalu hingga bulan ku lihat tertunduk malu, bersinar dengan redup karena hati mu sedang berkabut.

Tanpa sadar, kita duduk dicumbui keremangan bulan, segera engkau lepaskan kenangan, karena gadis di kota tua itu kini telah menjadi ibu, yang telah melahirkan….

Seutas racikan tembakau menyala terjepit ditangan kanan. Untuk sebuah jalan yang panjang, kita reguk kopi perlahan. Maaf kawan, jika sedikit pahit kopi yang ku pesan, karena aku menyesuaikan dengan pengalaman yang kau kisahkan...


Gajah Mada, February 2010

Jumat, 12 Februari 2010

Tangis (Cerpen)

Rasa tak pernah bertanya asal usul tangis, karena ia dicipta bersama. Tangis bersemayam dalam sebuah gumpalan. Tangis hanya punya teman yang bernama kesedihan, kadang diundang pada waktu keriangan, itupun sesekali, dan sangat jarang terjadi. Tangis tak pernah mengeluh pada keberadaannya, dia hanya hadir pada makhluk yang mampu memaknai kehidupan, pada cipta yang paham akan kealfaan, dan pada sesuatu yang hidup dalam kecintaan.

Tangis itu indah berbentuk isak yang sering ditemukan dalam kesepian, kesendirian dan keheningan. Disanalah tangis berdzikir, merenung apa yang telah dibuat oleh sang akal dan sang hati. Seringkali bisikan suci di dada yang memicunya, nurani yang mendorongnya, meminta air mata mengalir ke muara yang penuh dengan nuansa, mengadu dan berkeluh kesah pada sesama, dan sangat lebih mulia pada Pemiliknya.

Kemarin, seperti biasa aku berjalan dalam senandung kehidupan, yang semakin ku nyanyikan kian memabukkan. Hingga mabuk kepayang pun tak ku sadarkan, ketiduran. Sebangunnya, aku terlentang dalam kesepian. Lalu tak kusangka dan tak terduga, tangis pun bertandang pada ku, banyak sesenggukannya di imla, terbata-bata hadirnya. Tangis acuh pada letih batin yang ada pada ku, tangis tetap saja berada diatas mimbar dan tak sanggup ku menghentikannya, tak punya tenaga untuk membungkamnya. Lepas rintih tubuh letih yang kian tertatih-tatih, aku pun pasrah mengalah. Hingga ia berhenti sendiri karena aku mengangguk sebagai tanda memahami semua yang dikatakannya. Padahal, aku berpura-pura, karena tangis memaksa, karena terasa berdenyut sakit dikepala.

Perjalanan ku lanjutkan dengan sempoyongan, lalu redup mata ku terkesima pada para pelacur plastik kehidupan, yang membungkukkan kepala hanya karena permata dan singgasana, yang penuh hiruk pikuk, yang bercanda tawa menghamba pada sesama manusia. Lautan manusia yang mencium kaki sang penguasa untuk mendapatkan penghargaan belaka. Lautan manusia yang menerima penghargaan atas keputusannya membuat kebijakan. Lautan manusia yang memanipulasi kebijakan demi untuk membangun istana-istana kecil. Lautan manusia yang menghuni istana kecil untuk memperkosa nilai kemanusiaan. Lautan manusia yang diperkosa pun hanya bisa merintih ganasnya senggama keserakahan. Lautan manusia yang hanya menjadi penonton dari kebiadaban dan kedzaliman. Aku pun menonton drama kemanusiaan itu dengan membesarkan mata, menikmati para pelaku yang membuka paksa pakaian mereka, merenggut paksa milik mereka, menghancurkan paksa hidup mereka, merusak paksa kemerdekaan mereka. Aku hanya diam, bahkan tak sanggup walaupun untuk sekedar bergumam. Aku melihat berjuta kepala penonton tertawa dan terbahak-bahak karena melihat kelicikan tuannya menjadi sutradara, aku pun ikut tertawa namun malu untuk terbahak, karena gigi ku tinggal dua dimuka. Jeda pertunjukkan, para tuan dan puan mengajak penonton berdansa, ku berhasrat menunaikan ajakannya, namun aku lupa cara memainkan kaki dan pinggulnya. Sungguh, aku melupakannya, apalagi maju mundurnya...

Lalu tangispun menghampiri ku lagi dan berkata “hadir ku takkan pernah bermakna, bagi mereka yang terlalu akrab pada gelak dan tawa” ucapnya lirih sambil mencibir ku sehabis menyaksikan para setan berwajah dalang memainkan boneka kemanusiaan. Tangis pergi tanpa permisi, ku biarkan ia berlari tanpa sedikitpun ingin mencegahnya. Sadar ku turun dari ubun-ubun ke bagian muka namun enggan sampai ke ujung kaki. Terasa hidungku menghirup bau busuk yang menyengat di sekujur tubuh ku. Sambil mengingat penyebabnya, terasa bercampuk aduk baunya. Ternyata, sejak menginjak usia tanda remaja aku telah banyak mencintai kebusukan yang tampak menyenangkan, mengajakku pada kebahagiaan, terlihat ramah pada keasikan, hingga mabuk pun tak ku sadari kesesatan, hanya pikiran yang merasa diuntungkan, menjanjikan dan meyakinkan. Tangis sudah lama tak pernah bertamu ke rongga dada purna masa kanak-kanak ku, tak pernah aku mencarinya, jika akan berpapasan dengannya pun tak mau aku menolehnya, apalagi untuk bersemuka, sungguh tak sudi rasanya. Tangis ku jadikan stempel kebodohan dan kelemahan yang tak boleh mempunyai ruang disudut manapun di dalam hidup ku. Bahkan jika ia menumpang sedikit ditahi kuku pun ku merasa risih, dan lantas mengusirnya agar tak mengenalkan ku pada rintih.

Kembali ditengah perjalanan, ku ingin bercermin, berlari ke pasar untuk membelinya. Penampilan ku masih tetap sama, garis pakaian yang dikenakan masih lancip bekas setrikaannya, sepatu sekilap awalnya. Tak terjadi perubahan apa-apa pada muka, hanya terlihat sedikit merah menghiasi antara hitam dan putihnya mata. Itu tak mempengaruhi, aku tetap melangkah membusungkan dada, walaupun sebenarnya aku tak bisa menegakkan tulang belakangku yang memang agak bongkok dari asalnya.

Selepas tujuh tanjung, tujuh gunung dan tujuh samudera aku berjalan, aku menemukan pesona, aku melihatnya dengan membelalakkan mata dan mulut ternganga, terlena pada sepasang mata. Wanita setengah baya dengan pesona kerudung jingga. Ku hampiri untuk menyapa, tak dibalasnya. Aku berusaha menarik pesonanya, ia sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya, biasa saja, tapi sorot matanya tajam memandang ku dengan kecemasan. Aku bertanya namanya, ia hanya menjawab “asssalamu’alaikum” dengan lembutnya, segera ku menjawabnya. Lalu, aku bertanya asalnya, ia tak menjawab apa-apa. Semakin banyak ku ucapkan,tak ada jawaban yang ku dapatkan. Sebelum pergi dia hanya berkata “temuilah tangis dengan segera, makna dunia ada disana”. Aku diam, tangis ku undang namun tak kunjung datang. Aku terus berusaha menghadirkan dengan mengingatnya, namun tak jua tiba, ku paksa tak jua datang tanda. Tangis tak sudi nampaknya, membalas perlakuan ku selama ini terhadapnya, berprasangka.

Aku lupakan wanita itu dengan rasa yang menyesakkan dada, tak puas aku atas lisannya. Tangis yang diharapkan kedatanganya tampak sia-sia. Lalu ku lihat sembilan kucing berjalan bersama, indah warnanya dipelupuk mata. Ku menghampiri dan merangkulnya secara bergantian. Ku cium dan ku peluk sepuasnya dengan belaian yang bergantian pula. Lalu aku merasa ada yang berbeda dari sembilan kucing yang ada, satu darinya mengalami keunikan. Coba ku perhatikan dengan seksama, ternyata delapan kucing berwarna indah tak ada yang berekor, dan satu berwarna kusam membosankan tampak korengan mempunyai ekor. Aku lihat mukanya penuh dengan genangan air mata yang jatuh dari pelupuknya, rasa jijik untuk menyentuhnya. Penasaran ku memanggil hasrat jiwa untuk mengungkap rahasia kekurangannya. Aku bawa sembilan kucing pada seorang petapa, yang alas tidurnya dari anyaman pelepah kurma, yang mencintai pengikutnya melebihi kecintaannya pada dirinya. Aku duduk bersila, tertunduk dihadapnya, menyampaikan salam dan lantas bertanya “Tuan, apa maksud dari sembilan kucing ini, yang satu diantaranya berbeda dari lainnya...” usai ku menghaturkan pertanyaan, manusia suci itu menjawab dengan penuh kesopanan dan keramahan. “...yang satu itulah kucing yang sempurna penciptaannya, dan lebih baik dari delapan lainnya, warna hanyalah fatamorgana, tanda zaman yang kian senja” aku terkejut atas jawabannya, dan ingin kembali bertanya, namun sang Tuan segera menghela “jangan kau bimbang dan ragu atas ucapan ku, temukan kebenaran dengan tangis” dia menyudahi pembicaraan, dan lantas pamit dari hadapan. Aku bisu, kelu, bahkan untuk menjawab salam perpisahan hanya dengan anggukan.

Aku pulang, tak ada lagi yang dapat ku busungkan, bahkan bercermin pun rasanya aku malu. Tidur mengalami keresahan, membaca pun hanya menambah kegelisahan. Siang dan malam silih berganti, aku menanti tangis datang, tak kunjung ia bertandang, hanya sesekali dada terasa berisik, tapi setanpun terasa terus berbisik “jangan kau undang tangis, hanya membuat hidup pesimis” rayunya.

Gemercik air turun pelan-pelan dipelataran saat waktu bercumbu dengan kepekatan, pertanda tetes dari langit turun bergantian. Aku merusak keheningan dengan melepas angin berbau dari sebuah lubang. Dengan langkah malas aku ke pancoran menadah air yang diturunkan makhluk yang terbuat dari cahaya atas perintahNya. Selesai bersuci, ku berdiri mengangkat kedua belah tangan hingga ke telinga, bertutur apa yang telah disabdakan utusanNya, sambil mengulum sisa percikan air di muka, terasa asin dan hangat rasanya...

Ingin Hamba Mencintai Tangis Mu,
Bolehkan Tuhan?